10 Mar 2019 16.59.33 - Aditya Y Pradhana

Informasi Seputar Kerajaan Sunda yang Perlu Anda Ketahui

Informasi Seputar Kerajaan Sunda yang Perlu Anda Ketahui

Kerajaan Sunda menyimpan banyak cerita sejarah yang menarik serta peninggalan-peninggalan sebagai bukti pendukung keberadaan kerajaan yang pernah berdiri ditanah Sunda. Hal ini merupakan peninggalan yang sangat berharga untuk pengetahuan sejarah di negara ini, agar semua generasi mengetahui sejarah kerjaan di Sunda.

Awal Mula Kerajaan di Sunda

Mulanya kerajaan ini ditulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka atau 536 Masehi. Prasasti tersebut ditulis dalam aksara Kawi. Akan tetapi dalam tulisan tersebut menggunakan bahasa Melayu Kuno. Isi terjemahan Prasasti tersebut sebagai berikut:

"Batu peringatan ini merupakan ucapan Rakryan Juru Pangambat. Di tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah akan dikembalikan kepada kekuasaan Raja Sunda."

Beberapa sumber mengatakan bahwa tahun prasasti harus dibaca sebagai 854 saka atau 932 masehi. Sebab, hal yang mustahil apabila Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, atau berdiri di era Kerajaan Tarumanegara (358 – 669 AD).

Sumber lain mengatakan bahwa Sunda merupakan Prasasti Sanghyang Tapak yang terdiri dari 40 baris yang tertulis di 4 buah batu. 4 buah batu tersebut ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cikandak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut juga ditulis kedalam bahasa Kawi. Saat ini, keempat prassasti tersebut diletakkan di Museum Nasional Jakarta, yang memiliki kode D 73 (Cicatih), D 96, D 97, dan D 98. Pleyte mengungkapkan bahwa isi dari prasasti tersebut adalah perdamaian dan kesejahteraan.

Pada tahun 952 saka atau 1030 Masehi, pada bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, Wuku Tambir. Bertepatan dengan hari tersebut Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakala buwana manda leswaran indita Hari Gowardhana Wikramat tungga dewa membuat tanda pada bagian Timur Sanghiyang Tapak. Tidak seorangpun diperbolehkan untuk menangkap ikan didaerah suci dekat sungai ini. Apabila melanggar maka harus siap menerima konsekuensi.

Peninggalan Kerajaan di Sunda

Kerajaan Sunda ternyata banyak meninggalkan benda-benda sebagai bukti sejarah pulau jawa. Berikut ini ulasannya.

  • Prasasti Cikapundung

Prasasti ini ditemukan pada 8 Oktober 2010 di sungau Cikapundung. Diperkirakan batu ini berasal dari abad ke-14. Didalam batu ini terdapat huruf Sunda kuno dan gambar telapak tangan, telapak kaki serta wajah. Batu ini memiliki panjang 178 cm, lebr 80 cm, serta tinggi 55 cm.

  • Prasasti Pasir Datar

Kerajaan sunda juga meninggalkan sebuah prasasti bernama Prasasti Pasir Datar yang ditemukan diperkebunan kopi dipasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872.

  • Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

Prassati ini ditemukan tahun 1918 dan berbentuk tugu batu. Prasasti ini merupakan symbol perjanjian antara kerajaan di Sunda dan kerajaan Portugal yang dibuat oleh para utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin oleh Enrique Leme.

  • Prasasti Ulubelu

Prasasti Ulubelu ini ditemukan pada tahun 1936 di desa Rebang Punggung, Kota Agung, Lampung. Meskipun ditemukan didaerah Sumatra, namun sejarawan mengatakan bahwa prasasti ini ditulis dengan menggunakan aksara Sunda Kuno, sehingga prasasti ini disebut sebagai prasasti peninggalan kerjaan Sunda Kuno. Prasasti ini juga diperkirakan merupakan peninggalan pada abad ke-15 Masehi.

Kehidupan Sosial Kerajaan di Sunda

Keadaan kehidupan sosial wilayah Sunda saat itu ditulis dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian dijelaskan bahwa pada umumnya mereka adalah masyarakat peladang. Masyrakat tersebut juga memiliki kebiasaan yang menonjol yaitu selalu berpindah tempat dan memiliki rasa kebersamaan lebih longgar dibandingkan dengan masyarakat sawah yang hidup menetap.

Pola berpindah tempat dalam masyarakat peladang ini disebabkan oleh tanah yang mereka olah tidak subur lagi untuk ditanami. Oleh karenanya mereka selalu membuka kembali hutan baru dengan cara menebang pohon, membiarkannya mongering dan menanami dengan berbagai macam tanaman.

Kebiasaan yang berpindah tempat tidak menumbuhkan tradisi untuk membangun bangunan permanen. Sebab itulah, mengapa didaerah Jawa Barat tidak memiliki bangunan permanen, baik sebagai tempat tinggal atau sebagai tempat pemujaan.