17 Mar 2019 18.55.56 - Aditya Y Pradhana

Kembalinya Kemprongan Yang Hampir Hilang

kemprongan

Kuningan – Dalam sebuah kesempatan mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kuningan Drs. Teddy Suminar pernah mengatakan, jika sebenarnya seni budaya di Kuningan itu demikian banyak, bahkan dirinya berani bertaruh jika dibanding dengan Cirebon-pun tidak akan kalah. Cuma Teddy menyayangkan, karena masih banyak yang belum tergali, bahkan hilang terlindas kemajuan zaman.

"Jika diruntut seni budaya asli Kuningan itu ada ratusan yang belum tergarap, untuk itu pihak kami saat ini tengah melakukan berbagai cara agar semua asset seni budaya karuhun kita dapat tergali dan dapat dikelola dengan baik." Ujar Teddy dalam sebuah kesempatan berbincang-bincang dengan penulis.

Kala itu Teddy-pun mencontohkan salah satu karya seni paling tua dari ranah Kuningan yang juga merupakan cikal bakal lahirnya beberapa kesenian di daerah lain. Kesenian itu adalah ‘Kemprongan’. Di paparkan Teddy, kesenian ini saat bergeser ke utara pantai menjadi Dombret, ke Karawang menjadi Ketuk Tilu.

Di uraikan Teddy yang kini menjabat sebagai Kadis Kominfo Kabupaten Kuningan, bahwa seni tradisional Kemprongan sendiri merupakan sebuah kesenian rakyat yang berasal dari Desa Sidareja, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan yang biasa dimainkan setelah panen padi, dengan mepertunjukan tarian erotik sang ronggeng dan bisa diikuti oleh siapa saja. Para penonton bisa masuk ke dalam arena dengan memberikan saweran kepada sang ronggeng, serta biasanya pertunjukan berlangsung di bawah rumpun bambu dengan penerangan berasal dari oncor/obor yang disimpan di tengah-tengah lapangan.

Kesenian ini mengutamakan unsur gerak tari dan karawitan, dimana jumlah pemain dalam kemprongan biasanya sebanyak 15 orang, terdiri dari 10 orang wiyaga, 4 orang ronggeng atau lebih yang berfungsi sebagai penari dan 1 orang sebagai pemimpin rombongan dan seorang jawara pencak silat. Gamelan yang dipergunakan terdiri dari 2 saron barung, 1 penerus, 1 bonang barung, 1 gambang, rebab, seperangkat kendang, 1 ketuk, 1 kecrek dan seperangkat gong (1 gong besar, 1 gong kecil).

Seni Kemprongan belum diketahui pasti kapan mulai muncul dan siapa pelopornya. Tetapi pada awal abad ke-19 sampai tahun 1942 sempat tercatat sebagian para pelaku seni kemprongan pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang, yaitu: Ny. Arsita, Sasmita Gumor, dan Wiriadi Sastra.

Kesenian tradisional ini selain menambah penghasilan juga bertujuan mempertemukan jodoh antara ronggeng-ronggeng kemprongan, yang sebagian besar gadis dan janda dengan penonton yang berminat mencari jodoh.

Dalam perjalanannya, menurut Teddy kesenian ini hampir hilang karena selama kurun waktu kurang lebih tujuh puluh tahun tidak pernah lagi ditampilkan, konon hal itu terjadi karena kesenian warisan leluhur ini sudah tidak ada lagi penerusnya.

"Seperti kita ketahui bersama dengan adanya globalisasi kebudayaan, kebudayaan asing dapat dengan mudah merasuki generasi muda kita sehingga kesenian-kesenian lawas lambat laun mulai terabaikan," kata Teddy.

Beruntungnya pada tahun 2012 kesenian Kemprongan dimasukan kedalam program pewarisan oleh Disparbud Jawa Barat dan langsung di tampilkan pada Selasa 10 April 2012 di Gedung Kesenian Kuningan dan di Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House), sehingga Kemprongan bisa kembali bangkit dari tidur lamanya dan kembali bisa dinikmati pesona tampilannya.

Diakui Wihandi (61) salah seorang pewaris kesenian tradisional Kemprongan, bahwa bukan perkara mudah untuk mengembalikan kepercayaan para seniman pada kesenian Kemprongan, bahkan katanya hampir satu bulan dirinya berusaha untuk mengumpulkan pemain yang tersisa dan satu bulan lebih untuk mengajak para pemuda khususnya kaum remaja untuk terlibat dalam program pewarisan tersebut.

Pernyataan Wihandi dibenarkan Gugun Gumilang, S. Sen Pelaksana Teknis Lapangan Program Pewarisan Kesenian Tradisional, "Memang untuk melakukan program (pewarisan) ini sangat berat sekali, meski ada seniman dan dibantu pemerintah setempat, tetap saja ada kendala. Kalau tidak dari senimannya, dari pesertanya atau sebaliknya peserta program pewarisan ada tapi senimannya sudah tua dan sakit-sakitan," katanya.

Berkat kerja keras yang tak mengenal lelah, akhirnya upaya itupun membuahkan hasil, paska masuknya kesenian asli Kuningan tersebut pada program pewarisan, serta ikhtiar pihak Disparbud Kuningan mengemas sebaik mungkin, bahkan sedikit memoles dan mengkolaborasikan dengan kesenian modern, akhirnya minat para remaja untuk turut serta mempelajari, mendalami dan melestarikan kesenian Kemprongan-pun kian meningkat, sehingga kini masyarakat dapat kembali menikmati seni tari dan karawitan nan dinamis itu.