6 Agu 2019 20.03.00 - Iwan

Lukisan Kaca, Warisan Asli Budaya Cirebon

Lukisan-Kaca-1

Lukisan kaca merupakan kerajinan tangan khas Cirebon yang dikenal sejak abad 16 Masehi. Awal mula lukisan kaca merambah Cirebon dibawa oleh pedagang Cina yang singgah ke Cirebon. motif–motifnya tidak jauh dari pengaruh kebudayaan Cina dan seiring dengan perkembangan jaman lebih bervariasi.

Bahkan kerajinan tangan ini juga dimanfaatkan sebagai media penyebaran Agama Islam dengan tema lukisan kaca yang saat ini banyak bernapaskan Islam.

Seiring perkembangan zaman, lukisan kaca berkembang sebagai media dakwah Sunan Gunung Jati, ketika ajaran islam mulai memasuki Cirebon, maka tidak heran jika saat ini nuansa Cina yang kental berpadu dengan kaligrafinya yang cantik sering dijumpai di lukisan kaca ini.

Lukisan kaca mengalami puncak keemasannya pada abad ke-20 dimana hampir seluruh rumah disekitar tahun 1950an menggunakan lukisan kaca sebagai hiasan dindingnya. Namun seiring perkembangan zaman lukisan kaca tergerus oleh lukisan modern namun saat ini masih ada pengrajin lukisan kaca yang masih eksis.

Selain sebagai media dakwah beberapa motif di lukisan kaca seperti pemandangan, wayang dan lainnya juga terdapat sebagai motif lainnya yang banyak di pasaran.

Lukisan-Kaca-2

Ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa lukisan kaca ini kaya akan sisi supranatural di dalamnya. Unsur supranatural ini kental dari beberapa pembuatnya yang mesti mencari tanggal yang cocok serta melakukan beberapa ritual terlebih dahulu.

Memang hingga saat ini ada beberapa pelukis kaca yang masih teguh menggunakan pakem tersebut namun ada beberapa pula yang hanya melukis saja tanpa melakukan ritual–ritual terlebih dahulu.

Biasanya lukis kaca dibuat dengan gambar tokoh atau ikon tertentu yang menjadi bagian dari kebutuhan hiasan arsitektur. Melalui proses yang panjang dari barat, teknis melukis kaca menyebar hingga ke Asia Tenggara.

Menurut pakar seni lukis dari Jepang Profesor Seiichi Sasaki bahwa ternyata secara teknis maupun tema pengungkapan lukis kaca di Asia memiliki ciri tertentu yang cenderung sudah menyimpang dari asalnya di barat.

Lukisan kaca dari Eropa biasanya berbentuk realis dengan objek seorang gadis atau seorang pria muda berambut atau pria dalam posisi setengah badan. Bentuk kaca yang digunakan biasanya oval dan cembung. Pigura kaca dihias dengan ornamen keemasan. Indah seperti lukisan gaya Renaissance.

Sementara lukisan kaca khas Tiongkok dilukis bolak balik, bukan hanya dari satu sisi saja. Berbeda lagi dengan lukisan kaca dari Jepang yang lebih sering berlatar Gunung Fujiyama dengan geisha yang sedang menyusuri jalan setapak di sebuah telaga.

Lukisan kaca khas Jepang ditambah hiasan yang terbuat dari serpihan-serpihan kerang mutiara. Hiasan tersebut biasanya ditempelkan di pada bentuk tertentu seperti rumah agar terlihat berkelap-kelip.

Di Indonesia, lukis kaca tumbuh subur di beberapa tempat termasuk Cirebon. Lukis kaca Cirebon telah sampai pada keunikan yang khas menyangkut tema dan cara penuturannya yang berakar kepada tradisi campuran dari pengaruh Tiongkok, Jawa Hindu dan Islam. 

Pengaruh China muncul dalam ornamen mega dan batu karang yang disebut sebagai megamendung dan wadasan. Nuansa Islam dapat dilihat dari kaligrafi Arab sedangkan unsur Hindu dan Jawa dalam wujud wayang kulit serta ragam hias.

Para pelukis kaca di Cirebon berkembang di berbagai wilayah. Di Gegesik Kulon, ciri khasnya salah satu pengrajin bernama Rastika menciptakan lukisan berbagai adegan pewayangan sampai tema yang menyentuh bentuk modern.

Dari Gegesik Wetan, Bahendi menggarap tema eksperimentasi teknik yang lebih modern dengan menambahkan cat sembur (pylox) sebagai latar belakang yang menghasilkan efek  tekstur yang memberi kemungkinan baru. Di Trusmi Sugro cenderung melukis wayang dan elemen kaligrafi Arab sebagai selingan.*