10 Mar 2019 17.33.12 - Aditya Y Pradhana

Keraton Bersejarah di Jawa Barat

Keraton Bersejarah di Jawa Barat

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Jawa. Provinsi ini secara geografi bersebelahan dengan Jawa Tengah di sebelah Timur. Di sebelah Barat berbatasan langsung dengan provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Nama-nama Keraton di Jawa Barat

Keraton yang berasal dari Bahasa Jawa, Kraton atau Karaton merupakan tempat tinggal seorang raja atau ratu. Pada umumnya juga bisa disebut sebagai istana. Berikut ulasannya.

Keraton Kasepuhan

Tempat ini merupakan istana dari kerajaan Kesultanan Kasepuhan Cirebon. Kesultanan Kasapuhan merupakan wilayah hasil pembagian dari Sultan Abdul Karim atau disebut juga dengan Pangeran Girilaya kepada ketiga putranya. Keraton Kasepuhan ini dipimpin oleh Pangeran Raja Kartawijaya.

Keraton Kanoman

Keraton Kanoman merupakan istana dari Kesultanan Kanoman Cirebon. Kesultanan karoman merupakan putra dari Pangeran Giriliya. Ia mendapatkan istana ini sebab hasil dari pembagian wilayah dengan keraton Kasepuhan. Pangeran yang memimpin Keraton Kanoman adalah Pangeran Raja Kartawijaya.

Keraton Kacirebonan

Tempat ini merupakan kerajaan Kesultanan Kacirebonan Cirebon. Singgahsana Raja ini berdiri sekitar tahun 1808 dari hasil perundingan kerajaan Kesultanan Kanoman yang dikarenakan Sultan Anom V Pangeran Raja Abu Soleh Immamudin yang merupakan adik dari Pangeran Raja Kanoman.

Keraton Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang ini merupakan karaton dari kerajaan Kadipaten Sumedang Larang Jawa Barat. Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam di Tatar Pasundan. Kerajaan ini juga diperkirakan berdiri pada abad ke-16.

Popularitas kerajaan ini tidak sebesar kerajaan yang lainnya seperti Demak, Mataram, Banten dan Cirebon. Akan tetapi, keberadaan keraton Sumedang Larang ini menjadi bukti sejarah yang amat kuat pengaruhnya dalam proses penyebaran Islam di Jawa Barat.

Misteri Keraton Kasepuhan Cirebon

Nama Keraton Kesepuhan bukan Nama Sejak Awal

Mulanya, tempat ini diberi nama Dalem Agung Pakungwati. Tujuannya adalah kerajaan ini yang akan diperuntunkan untuk anak perempuan Pangeran Walangsungsang yang merupakan anak dari Prabu Siliwangi. Anak perempuan tersebut bernama Pakungwati.

Konon, pagar batu bata merah yang mengelilingi kerajaan ini hanya di bangun dalam waktu satu malam. Yang lebih unik lagi adalah batu bata tersebut ditumpuk dan direkatkan dengan putih telur, getah aren, serta kapur sirih.

Kereta Kencana Singa Barong

Kereta kencana ini dibuat pada tahun 1549. Kereta ini sangat istimewa. Sebab kereta ini dibuat dari hasil perpaduan tiga kebudayaan dan agama. Kereta ini memiliki belalai seperti gajah yang melambangkan persahabatan Cirebon dengan kebudayaan Negara India dan agama Hindu.

Wajahnya mirip naga yang menjadi simbol persahabatan dengan budaya Negara Tiongkok dan kepercayaan Buddha. Sayap serta badannya diambil dari kesenian Islam, yakni burok yang menjadikan simbol persahabatan dengan budaya Negara Mesir dan kepercayaan peradaban Islam.

Sumur Tujuh Mata Air

Selain kereta kencana, tempat ini juga memiliki sumur yang dialiri oleh tujuh sumber mata air yang berbeda. Masing-masing mata airnya pun memiliki warna yang berbeda-beda, diantaranya adalah merah, kuning, hitam, hijau, keruh dan coklat. Inilah yang membuat menjadi objek wisata yang menarik.

Pohon Soka Langka

Pada umumnya, tanaman Soka hanya ditanaman untuk pemanis halaman rumah dan tidak terlalu besar. Lain halnya dengan pohon Soka yang ada di Kerajaan Kasepuhan ini. Disini, pohon Soka dapat tumbuh menjadi pohon yang langka. Pohon ini pun sudah berusia ratusan tahun dan masih tetap berdiri tegak hingga sekarang.

Sumur Kejayaan

Di keraton ini juga terdapat satu sumur yang tidak boleh dimasuki oleh kaum hawa. Di dalamnya terdapat petilasan Sunan Gunung Jati dan Pangeran Walangsungsang. Uniknya, sumur kejayaan ini memiliki debit air yang sedikit namun airnya tidak pernah habis meskipun diambil oleh ribuan orang.

Demikianlah informasi mengenai keraton bersejarah di Jawa Barat. Semoga artikel ini bermanfaat.