17 Mar 2019 15.00.07 - Aditya Y Pradhana

Batu Luhur Salah Satu Obyek Wisata Baru Kabupaten Kuningan Dengan Tingkat Kunjungan Tinggi

Batu Luhur Salah Satu Obyek Wisata Baru Kabupaten Kuningan Dengan Tingkat Kunjungan Tinggi

Kuningan – Dunia pariwisata di Kabupaten Kuningan mengalami perkembangan demikian pesat, berbagai obyek wisata baru bermunculan, baik yang membangun sarana wisata baru, maupun dengan mengoptimalkan potensi yang telah ada dan memang telah tersedia, tetapi selama ini belum termnfaatkan dengan baik.

Seperti salah satunya obyek wisata Batu Luhur, yang berada di perlintasan jalan menuju Kebun Raya Kuningan (KRK), atau tepatnya di Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, dengan daya tarik tersendiri, sehingga tidak aneh, jika tempat ini meskipun baru dimanfaatkan sebagai obyek kunjungan wisata, tetapi seakan mampu menyedot perhatian para wisatawan, sehingga hampir setiap harinya seakan tidak pernah sepi dari pengunjung, baik yang berasal dari wilayah Kuningan sendiri, maupun dari Cirebon, dan Majalengka.

Pengelolaan obyek wisata yang namanya diambil dari keunikan lokasi, yakni banyaknya batu besar di tempat lumayan tinggi (luhur), serta menurut cerita penduduk setempat berasal dari lahar letusan gunung Ciremai yang membeku itu dilakukan oleh kelompok Pujanggamanik Desa Padabeunghar yang merupakan mitra kerja dari Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC).

Kadi ketua kelompok Pujanggamanik menuturkan berbagai potensi dimiliki lokasi wisata baru tersebut, selain hamparan batu di perbukitan bagian atasnya, keindahan juga tersaji di tingginya Batu Luhur, yang mampu memanjakan mata pengunjung dengan pemandangan daerah di bawahnya, yang tembus hingga wilayah pantai Cirebon.

Namun, kata dia, yang paling diminati saat ini adalah potensi madu odeng yang sarangnya tersebar di bebatuan di area tersebut, juga cuing khas Batu Luhur, kuliner berasal dari tanaman menjalar yang banyak tumbuh di kawasan TNGC.

"Madu odeng asli, atau madu yang berasal dari hewan sejenis tawon yang hidup di sela-sela batu yang ada di Batu luhur, tetapi lokasinya berada agak jauh dari area bermain, dan tempat istirahat pengunjung," kata Kadi.

Diterangkan Kadi, bahwa para pengunjung bisa menyaksikan langsung proses pengambilan, hingga bagaimana cara melakukan pengolahan, bahkan merekapun bisa di bimbing para pawang melakukan pengambilan madu sendiri, langsung dari sarangnya, "Dan jika mereka ingin membeli, kami menjualnya dengan harga Rp.250 ribu/kg" terangnya.

Selain menikmati kuliner, menurut Kadi, pengunjung juga bisa melihat habitat burung jenis Kepudang (Oriolus Chinensi) yang selama ini populasinya sudah sedikit, serta langka dan jarang ditemukan di daerah lain.

Diakui Kadi, meskipun pangunjung semakin hari semakin banyak, bahkan jika memasuki hari libur bisa mencapai hingga diatas 500 orang/hari , namun banyak hal yang masih harus dibenahi, salah satunya fasilitas kamping, agar para pengunjung bisa menikmati keindahan suasana malam di tempat itu, dengan memandang kota Cirebon dan Majalengka.

Sementara salah seorang pengunjung, Gugun, 37, warga Kelurahan Kesambi Cirebon mengungkapkan, jika dirinya merasa senang dan sangat menikmati suasana pegunungan di Batu Luhur, terlebih lagi, wilayah Kabupaten Majalengka dan Cirebon juga sangat jelas terlihat dari lokasi tersebut. 

"Meski belum ada tempat kemping, namun saya sudah beberapa kali berkunjung malam hari kesini, dan saya sangat menikmati keindahan alam yang ada disini, udaranya sejuk, serta saya bisa melihat pemandangan indah daerah Majalengka dan Cirebon dari sini," ujar Gugun.