18 Mar 2019 11.39.07 - Adm

Batik Tulis Ciwaringin Miliki Ciri Khas Tersendiri

ciwaringin+cirebon

Pasundan.Id, CIREBON- Ketika singgah di Cirebon dan berniat berburu batik, tentunya akan tertuju Kawasan Batik Trusmi, sebuah sentra batik Cirebon yang sudah dikenal luas. Padahal selain Batik Trusmi, Cirebon juga memiliki sentra batik lainnya,yaitu Batik Tulis Ciwaringin.

Batik Ciwaringin, memiliki ragam dan corak tersendiri. Karakternya berbeda dengan motif Batik Trusmi. Salah satu kelebihannya, hingga kini masih mempertahankan penggunaan pewarna alami alias tidak menggunakan bahan kimia. Batik Trusmi maupun Batik Ciwaringin memiliki kelebihan tersendiri dan keduanya memiliki nilai luhur.

Batik tulis yang awalnya tumbuh dan berkembang di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon, hingga kini selalu mempertahankan penggunaan pewarna alam yang berasal dari dedaunan dan kulit buah-buahan.

Disamping ramah Lingkungan, Batik Ciwaringin memiliki karakteristik tersendiri, berbeda dengan Batik Trusmi.

Batik Ciwaringin

Batik Ciwaringin lahir dan tercipta di lingkungan pondok pesantren secara implisit nilai tarekat melekat dalam filosofi motifnya. Motif klasik yang cukup dikenal diantaranya, Pecutan, Tebu Sekeret, Sapu Jagat, Pring Sedapur dan Laseman.

Masing-masing motif memiliki filosofi yang memiliki esensi agama. Disamping itu, motif-motif yang ada bertutur tentang kondisi lingkungan di sekitar pondok pesantren.

Keberadaan Batik Ciwaringin tidak lepas dari peran Ki Madamin Muda yang menuntut ilmu di Lasem Jawa Tengah. Disamping menuntut ilmu agama, juga belajar membatik.

Ketika usai menuntut ilmu dan kembal ke kampung halamannya, Ki Madamin mengajarkan proses membatik pada santri dan masyarakat sekitar, khususnya di Blok Kebon Gedang Ciwaringin.

Awalnya, Ki Madamin mengajarkan cara membatik di pondoknya kepada santri dan warga sekitar. Warga Ciwaringin Blok Kebon Gedang tergolong banyak dan tekun belajar membatik hingga mereka mahir.

Batik Ciwaringin

Ki Madamin meminta untuk mengembangkan seni membatik di rumahnya sehingga sekarang keberadaan Batik Ciwaringin tetap lestari berkat keuletan dan kegigihan mempertahankan batik khas Ciwaringin.

Sedikitnya di Kampung Batik Kebon Gedang, Ciwaringin tercatat sekitar 115 pengrajin batik yang binaaan PT Indosemen Palimanan.

Pemilik Rumah Batikku, H. Fatoni mengatakan, perkembangan motif dan tekhnik membatik, disamping memiliki akar dengan daerah Lasem, peran para santri Ki Madamin yang berasal dari Pekalongan yang juga memiliki dasar-dasar dan kemampuan membatik turut membentuk karakter motif Batik Ciwaringin.

Dominasi ornamen dedaunan dan tumbuhan akibat pengaruh tarekat satariah sebagai dasar filosofi setiap motifnya begitu jelas terlihat dari hasil batik para pengrajin. Inilah yang membuat perbedaan Batik Ciwaringin dan Batik Trusmi. (Dedy Abbas)